top of page

Aku Ingin Libur Menjadi Ibu

Updated: Dec 23, 2021

Penat dan sesak. Rasanya dua kata ini cukup menggambarkan kondisiku akhir-akhir ini. Aku sungguh tidak tahu apa yang salah. Rasanya aku kehilangan pusat gravitasi atas diriku sendiri. Setiap hari rasanya hampa, bagaikan berjalan tanpa tujuan tanpa ada hal produktif yang bisa kulakukan. Aku tidak memasak, tidak juga mencuci baju. Untuk makan pun rasanya malas sekali. Rasanya tidak ada hasrat untuk menjalani hari dengan semangat. Perlahan, aku juga berjarak dengan Tuhanku. Membuat jiwaku semakin kerontang.


Aku tidak tahu apakah hal ini juga dialami dan dirasakan oleh ibu lainnya, tapi aku merasa benar-benar ada yang salah dengan diriku. Emosi yang meledak-ledak, temperamen yang begitu mudahnya tersulut hanya karena gara-gara hal remeh temeh. Aku bisa mengomeli putriku atas kesalahan yang tidak sengaja dia lakukan. Bahkan hari ini aku memarahinya hanya karena ia menolak untuk kubelikan sandal baru. Padahal apa salahnya jika ia menolak? Tapi entah kenapa aku jadi merasa kesal sekali. Seketika aku ingin merutuk dan mengamuk ketika ada hal yang berjalan di luar kendaliku. Aku benar-benar ibu yang buruk.


Selain marah-marah dan tidak produktif, aku juga cenderung abai. Abai pada kebutuhan diriku sendiri dan abai pada kebutuhan putriku. Aku tidak bisa menanggapi dengan antusias ketika ia mengajak bermain, tidak bisa memberikan respon yang seharusnya ketika ia mengajakku berbicara. Aku paham bahwa ia hanya ingin agar aku bisa menemaninya dan bermain bersama-sama seperti biasanya.


Tapi aku merasa sebagian besar diriku sedang tersedot ke dimensi lain, tanpa berusaha untuk mengindahkan permintaannya. Aku bahkan menghindari kontak mata dengannya saat ia berbiacara. Di satu sisi aku merasa bersalah. Putriku yang masih berusia toddler itu seringkali meminta maaf untuk sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahan fatal. Tapi di satu sisi perasaan risih menggelayutiku.


Aku risih ketika ia terus memanggilku. Rasanya telinga dan kepalaku begitu ramai dan penuh oleh celotehannya, sementara di dalam, aku sungguh merasa kesepian. Aku risih ketika ia terus mengikuti ke mana pun aku pergi. Aku risih ketika ia selalu minta kutemani. Aku merasa sesak. Seolah-olah duniaku menyempit layaknya dihimpit oleh dua dinding pembatas yang merangsek maju, membuat segala ruang gerakku kian terbatas. Aku sungguh benci perasaan ini. Perasaan kesepian dan tidak berdaya. Aku juga sungguh tidak nyaman dengan sikapku sendiri pada putriku. Seorang ibu seharusnya tidak berlaku demikian, bukan?


Aku merasa tersesat dan hilang arah. Aku kehilangan separuh diriku yang dulu kukagumi. Dia yang tenang dan bijaksana, selalu bisa meredam dan mengontrol emosinya dengan baik. Dia yang tidak pernah memusingkan perkara-perkara kecil bahkan tidak pernah membesar-besarkan masalah. Dia yang optimis, percaya diri, dan penuh dengan mimpi-mimpi. Dia yang dewasa dan selalu bisa berpikir dengan matang, sebelum melontarkan dengan luigas apa yang terlintas di kepalanya. Dia yang easy going, mudah bergaul, dan memiliki banyak teman. Dia yang percaya kalau dia bisa menaklukkan dunia dengan tekad yang kuat. Aku kehilangan segala sisi positif dalam diriku yang dulu kubanggakan.


Nyatanya sekarang, aku lebih sering dikuasai perasan-perasan negatif. Kini yang kurasakan hanya perasaan lemah, tidak berguna, dan tidak berdaya. Krisis percaya diri yang menjadi-jadi. Mood yang gampang berubah dengan cepatnya. Ketika marah melanda, rasanya ingin kulontarkan seluruh kata-kata kasar yang tak pantas, yang dengan mati-matian kutahan agar jangan sampai terlontar dari mulutku. Ingin juga rasanya kulempar barang-barang di rumah agar tuntas dan puas seluruh emosi ini tersalurkan. Aku menjerit keras dalam hati tanpa ada yang tahu apalagi mendengarnya. Perasaan insecure yang perlahan menggerogoti karena merasa tidak lagi memiliki pencapaian apa-apa yang bisa kubanggakan. Aku tahu pemikiran ini terdengar konyol dan dangkal, bahkan di telingaku sendiri. Tapi aku bisa apa? Perasaan ini valid dan nyata.


Sungguh bukan berarti aku menyesali keputusanku untuk menjadi ibu rumah tangga dan punya anak. Tetap saja ia adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Tapi kalau boleh, seminggu saja rasanya aku ingin libur menjadi ibu. Seminggu saja aku ingin menjadi diriku sendiri seutuhnya. Mungkin menurut orang lain ini gila. Seminggu itu waktu yang terlalu muluj-muluk dan terlalu lama. Aku juga tahu pasti bahwa dalam kurun waktu itu, aku pasti akan merindukan putriku. Tapi satu hari saja rasanya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan memulihkan perasaanku. Aku sedang tidak dalam kondisi yang prima saat ini, dan aku sungguh membutuhkan waktu untuk sendiri.


Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page