AKU IKHLAS...
- Primawati Kusumaningrum
- Aug 12, 2022
- 3 min read
Hola... Beberapa hari terakhir ini aku merasa pikiranku tenang dan damai. Bukan berarti tanpa hambatan atau tantangan sama sekali, namun aku merasa bahwa semakin hari, aku merasa semakin tenang dalam menjalani kehidupan. Mungkin terdengar terlalu filosofis, tapi memang ini yang sedang kurasakan. Isi kepalaku tidak lagi riuh oleh rasa khawatir, tidak lagi penat oleh rasa frustasi dan amarah yang menumpuk, dan hatiku tidak lagi gemuruh atas segala kecamuk yang hadir.
Aku sampai pada kesimpulan, bahwa pada akhirnya, aku tiba di fase IKHLAS. Aku ikhlas menjadi seorang ibu, aku ikhlas menjadi seorang istri yang tinggal di rumah, dan aku ikhlas atas peran yang kujalani saat ini. Terdengar sangat teoritis (sekaligus terlalu puitis), tapi siapa sangka, ketika kita benar-benar merasakannya dalam diri, hati ini terasa sungguh sangat lapang.
Segala sesuatu yang dahulu rasanya menghambatku untuk berkembang, untuk bertumbuh, untuk maju, kini kusadari keberadaannya justru yang membuatku sampai di fase ini. Bahwa, memang butuh kesadaran dan keikhlasan dari dalam diri untuk menjalani suatu peran (terutama peranku sebagai seorang ibu saat ini), agar kita bisa menerima setiap kondisi dengan legowo. Dan ketika kita legowo, ada banyak kejadian yang tadinya sulit terjadi bahkan seolah-olah tertutup rapat, kini jalannya terbuka lebar.
Yang kurasakan, semakin hati ini menggebu-gebu untuk meraih sesuatu atau semakin kita ingin cepat sampai di titik tertentu, semakin terasa jauh pula dari jangkauan. Namun justru dengan perasaan ikhlas seperti ini, hal yang terasa jauh tadi tiba-tiba saja terasa nyata berada dalam genggaman (Maha Suci Allah yang membolak balikkan hati manusia). Bukan berarti aku bisa mendapatkan segala yang aku mau secara sekaligus saat ini, namun dengan keikhlasan terhadap segala sesuatu yang ada saat ini. justru aku merasa penuh. Dan aku merasa cukup.
Selama ini aku mencari segala jawaban sampai ke mana-mana, namun ternyata yang paling kubutuhkan saat ini (dan mungkin juga semua orang pada umumnya) hanyalah ketenangan hati. Perasaan ikhlas ini sungguh menngubah caraku berpikir dan bersikap. Aku tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan, tidak lagi berlarut-larut dalam memikirkan sesuatu (overthinking). lebih santai dalam menghadapi komentar yang diberikan tentang apapun terhadapku entah itu hal baik atau buruk, tidak berlama-lama dalam menghadapi konflik (terutama dengan pasangan), dan bisa lebih baik dalam bersikap saat ada masalah.
Seperti yang kuceritakan minggu lalu tentang kehadiran seorang anak tetangga yang terasa agak mengganggu, kini aku bisa melihat kejadian tersebut dari kacamata yang lebih positif. Ingatanku kembali pada masa kecilku yang indah saat mendiang Mama masih ada. Sepanjang yang aku ingat, Mama selalu menjadi tuan rumah yang baik. Tidak terhitung berapa kali aku membawa temanku yang berjumlah lebih dari 5 orang tersebut untuk bermain di rumah, dan tak peduli berapa banyak camilan atau makanan yang harus dikeluarkan, Mama selalu menyuguhi teman-temanku dengan baik. Kadang hanya berupa camilan-camilan ringan, kadang camilan berat seperti semangkok bakso. Dan itulah alasan kenapa pada akhirnya teman-temanku selalu senang bermain dan belajar kelompok di rumahku, karena mereka selalu disambut dengan baik.
Aku juga jadi mengingat kembali beberapa ingatan tidak menyenangkan saat aku bermain di rumah teman dulu, bahwa saat berada di rumah teman tersebut, satu gelas air minum pun aku tidak ditawari. Aku jadi berpikir, alih-alih aku membatasi makanan yang ada di rumah untuk dimakan oleh teman-teman anakku, mengapa aku tidak meyediakan saja jenis camilan dan buah-buahan yang harganya tidak terlalu mahal dalam jumlah banyak untuk bisa dinikmati bersama-sama dengan nikmat? Aku tetap bisa tetap mengajari anakku untuk belajar mempertahankan haknya tanpa harus membuatnya menjadi pribadi yang pelit dan perhitungan.
Aku senang mendapati kenyataan bahwa ternyata saat ini dengan kondisi hati yang ikhlas, ternyata aku bisa menghadapi kondisi apapun dengan lebih santai, sekalipun itu adalah kondisi yang kurang menyenangkan.

Comments